Ledakan informasi (information explosion) dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan akan layanan informasi yang merupakan hal yang harus ada bagi (sin que non) manusia. Dengan adanya informasi maka ketidakjelasan yang dapat teratasi. Dewasa ini, perkembangan informasi yang sangat cepat menuntut pengelolaan yang lebih optimal. Berkenaan dengan hal tersebut, peranan teknologi informasi (TI) di perpustakaan sangat dirasakan. Kehadiran TI menyebabkan pengelolaan informasi (TI) oleh pekerja di bidang informasi akan menjadi lebih mudah dan cepat. Pada dasarnya, teknologi informasi merupakan aplikasi komputer dan teknologi lain untuk pengadaan, penataan, simpan dan temu balik informasi, serta penyebaran informasi (American Library Association, 1983: 183) . Pengertian tersebut menekankan bahwa teknologi informasi merupakan kombinasi komputasi dan teknologi telekomunikasi berbasis mikro elektronik.
Perpustakaan merupakan salah satu institusi yang bergerak di bidang pengelolaan informasi sangat memerlukan teknologi informasi. Dengan adanya teknologi tersebut dapat membantu pustakawan untuk mengerjakan tugas-tugas kepustakawanan secara lebih professional. Pada saat ini, teknologi informasi yang paling banyak dikenal di perpustakaan adalah teknologi komputer. Manfaat komputer sangat besar dalam pelaksanaan otomasi perpustakaan, yaitu pemanfaatan perangkat komputer dan teknologi lain secara terpadu (integrated) pada berbagai aktivitas perpustakaan seperti penelusuran informasi, pengadaan dan pengolahan bahan pustaka, sirkulasi dan administrasi perpustakaan dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan perpustakaan. Otomasi perpustakaan dapat dilakukan secara bertahap yaitu tingkat pra jaringan, tingkat jaringan local (LAN), tingkat jaringan luas (WAN) dan tingkat global atau internet (Purnomo, 1999: 8-9).
Perpustakaan hendaknya menerapkan teknologi informasi. Hal ini disebabkan adanya peningkatan dan keragaman pekerjaa perpustakaan, kesulitan dana, keragaman kebutuhan pengguna perpustakaan, ketatnya persaingan layanan di bidang informasi, dan trend menuju masyarakat informasi. Semua kendala tersebut dapat diatasi dengan implementasi teknologi informasi di perpustakaan secara optimal.
Seperti contohnya perpustakaan pusat Universitas
Sebelas Maret (UNS) yang menerapkan layanan mandiri berbasis web dimana semua
layanan perpustakaan seperti menijam buku dan mencari bahan refernsi dapat
dilakukan dimanapun melalui web. Walaupun saat ini perpustakaan pusat sedang
dalam proses pembangunan tetapi konsep perpustkaan kedepan sudah sangat matang
dan perpustakaan tersebut anntinya akan menjaid tempat yang nyaman untuk
sekedar duduk-duduk. Hal ini merupakan salah satu upaya peprustakaan untuk
meningkakan minat baca mahasiswa.
Sejauh ini kekuranagn SDM memrupakan salah satu
kendala terbesar untuk mewujudkan mimpi memiliki perpustakaan modern. Karena saat
ini kebanyakan pustakawan tidak memiliki banyak keahlian untuk membuat program
yang dapat meningkatkan pelayanan di perpustakan. Padahal jika kita tahu,
peprustakaan pusat memiliki dana yang cukup untuk mengembangkan perpustakaan. Contohnya
saja, ada SAT yang memberikan layanan internet gratis bagi mahasiswa diaman ini
merupakan salah satu upaya perpustakaan dalam bentuk digital.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar